TNA digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan kompetensi antara kondisi saat ini dan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga program pelatihan dapat dirancang secara tepat sasaran. Hasil TNA akan menjadi dasar penyusunan rencana pelatihan untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan perusahaan.
Konteks dan Deskripsi Kasus
Nama Karyawan: Sarah Wijayanti
Posisi: Customer Service Specialist
Divisi: Customer Relations
Atasan Langsung: Rizky Pratama (Customer Relations Mng)
Sarah bekerja di tim Customer Service PT Mandiri Retailindo, sebuah perusahaan e-commerce yang melayani penjualan produk fesyen dan kecantikan. Dalam 6 bulan terakhir, perusahaan mengalami lonjakan pesanan hingga 35% akibat kampanye promosi besar-besaran. Hal ini membuat volume interaksi dengan pelanggan meningkat tajam, baik melalui telepon, email, maupun media sosial. Namun, dari hasil evaluasi kinerja, ditemukan beberapa catatan berikut:
Saat menangani komplain pelanggan terkait keterlambatan pengiriman, Sarah sering memberikan jawaban umum tanpa menyesuaikannya dengan detail kasus.
Proses pencatatan informasi pelanggan di CRM tidak selalu lengkap, sehingga menghambat tindak lanjut dari tim lain.
Keterampilan penggunaan live chat tools belum optimal, terutama dalam mengelola percakapan ganda dengan cepat dan akurat.
Pengetahuan produk yang dimiliki masih terbatas pada kategori utama, sehingga kurang mampu menjawab pertanyaan pelanggan yang spesifik.
Perusahaan menargetkan dalam 4 bulan ke depan:
95% interaksi pelanggan dapat ditangani sesuai SLA (Service Level Agreement) tanpa eskalasi ke atasan.
Tingkat kelengkapan data di CRM mencapai minimal 98% per bulan.
Peningkatan skor kepuasan pelanggan (CSAT) dari 82% menjadi 90%.
Berdasarkan kasus diatas, perlu adanya TNA yang membantu menyusun prioritas kebutuhan pelatihan beserta rekomendasi pelatihannya. Berikut adalah hasil Training Need Analysis (TNA):
Kesimpulan:
Konteks dan Deskripsi Kasus
PT Sarana Prima Kolaborasi (perusahaan dummy, layanan operasional dan admin support) baru selesai menjalankan program training internal selama 6 bulan terakhir. Namun, user masih mengeluh masalah yang sama: revisi kerja berulang, SLA sering lewat, dan kualitas dokumentasi progres tidak konsisten. HR menyadari mereka punya TNA, tapi kualitasnya dipertanyakan karena rekomendasinya terasa “terlalu umum”.
Dengan menerima TNA versi 0 (TNA v0) yang selama ini dipakai. Formatnya berupa ringkasan 2 halaman dan daftar kebutuhan training yang campur aduk. Ini cuplikan isi TNA v0 (disederhanakan):
Cuplikan Temuan TNA v0:
“Tim perlu komunikasi yang lebih baik”
“Perlu peningkatan mindset ownership”
“Excel dan reporting masih lemah”
“Supervisor belum kuat coaching”
“Banyak kesalahan administrasi dan data entry”
“Koordinasi lintas tim sering miss”
“Training yang lalu terlalu teori, peserta cepat lupa”
Tidak ada pembagian target peserta yang jelas (staf vs supervisor dicampur)
Tidak ada indikator keberhasilan yang bisa dicek setelah training
Tidak ada rencana evaluasi selain aendance dan form kepuasan
Kondisi dan batasan yang harus kamu pegang:
Budget pelatihan terbatas: hanya cukup untuk menjalankan 3 topik prioritas dalam 1 kuartal ke depan.
Peserta program beragam: staf operasional, admin, dan supervisor. Jika salah sasaran, dampaknya kecil.
Target manajemen: dalam 8 minggu, harus ada perubahan yang terlihat minimal pada:
penurunan revisi dokumen kerja,
peningkatan ketepatan SLA tugas,
Perbaikan konsistensi dokumentasi progres.
Berikut adalah sumber data TNA Versi 0.
Tugas saya adalah memastikan dokumen TNA menjadi alat keputusan: apa yang diprioritaskan, untuk siapa, dan bagaimana keberhasilannya diukur. Berikut adalah hasil review TNA:
Kesimpulan:
Konteks dan Deskripsi Kasus
PT Satria Kinerja Nusantara (perusahaan dummy, operasional multi-site) akan menjalankan program “Supervisory Essentials” untuk supervisor baru dan supervisor yang performanya belum stabil. Dalam 3 bulan terakhir, manajemen melihat beberapa indikator memburuk: turnover tim meningkat di beberapa unit, kualitas coaching dari supervisor tidak merata, dan KPI tim sering naik-turun tanpa pola perbaikan yang konsisten.
HR sudah menyiapkan dokumen awal untuk program ini, tetapi dokumennya dinilai belum siap digunakan untuk eksekusi. Kamu menerima 2 artefak utama: TNA 2 halaman dan daftar tujuan pembelajaran 10 poin. Masalah yang kamu temukan dari ringkasan dokumen tersebut:
Cuplikan kelemahan dokumen (ringkas):
TNA banyak berisi pernyataan umum seperti “perlu leadership yang lebih baik”, tetapi tidak menyebut sumber data atau bukti pendukung.
Target peserta tidak jelas: supervisor baru dan lama dicampur tanpa pembeda kebutuhan.
Rekomendasi training belum spesifik dan belum diturunkan menjadi fokus kompetensi yang dapat dilatih.
Tujuan pembelajaran campur aduk (ada yang terlalu umum, ada yang menggambarkan aktivitas, bukan capaian).
Tidak ada indikator keberhasilan yang bisa dicek setelah program, dan evaluasi hanya direncanakan berupa attendance + survey kepuasan.
Manajemen memberi batasan yang harus jadi acuan kamu:
Program berjalan selama 6 minggu (campuran sesi kelas + praktik kerja).
Hasil yang diharapkan terlihat dalam 8 minggu sejak program dimulai.
Fokus perubahan yang dicari: supervisor mampu mengelola ritme kerja tim, melakukan coaching dasar, dan memperbaiki konsistensi pencapaian KPI tim.
Berikut adalah sumber data Cuplikan TNA Existing:
Setelah ini, perlu perbaikan meliputi checklist audit, perumusan tujuan pembelajaran, dan rencana evaluasi ringkas yang selaras dengan tujuan pembelajaran. Hasil pengerjaan sebagai berikut:
Kesimpulan: