Konteks & Deskripsi Kasus
PT. Edu Sylvania sedang melakukan review sistem kompensasi karena sering muncul keluhan dari karyawan dan tantangan saat rekrutmen. Saat ini, perusahaan belum memiliki acuan upah minimum dan maksimum yang jelas untuk tiap jabatan. Akibatnya, HR kesulitan menjustifikasi gaji karyawan maupun kandidat baru. Beberapa masalah spesifik yang muncul antara lain:
Jabatan entry level seperti Office Boy meminta kenaikan gaji karena merasa gajinya stagnan, sementara HR tidak punya standar batas bawah yang kuat.
Jabatan puncak seperti Kepala Divisi Operasional sulit ditetapkan gajinya sehingga HR hanya menyalin standar pasar, yang sering kali tidak sesuai dengan kondisi perusahaan.
Jabatan menengah (misalnya Supervisor Produksi atau Customer Service Officer) tidak memiliki jarak upah yang memadai dengan level entry, sehingga memicu rasa tidak adil.
Proses rekrutmen kandidat senior terganggu karena perusahaan tidak dapat menunjukkan struktur upah yang kompetitif dan rasional.
Untuk memperbaiki hal ini, manajemen meminta HR segera menyusun struktur skala upah menggunakan Metode Dua Titik. Dengan metode ini, HR akan menentukan jabatan terendah dan tertinggi sebagai titik acuan, menetapkan nilai upah untuk keduanya, lalu melakukan interpolasi proporsional guna memperkirakan rentang upah bagi jabatan lain. Pendekatan ini dianggap praktis dan cepat sehingga dapat segera digunakan sebagai dasar kebijakan gaji sementara, sebelum perusahaan mengembangkan metode evaluasi jabatan yang lebih detail.
Konteks & Deskripsi Kasus
PT. Edu Sylvania mulai menghadapi masalah ketidakakuratan dalam evaluasi jabatan. HR menyadari bahwa metode sederhana seperti ranking atau dua titik kurang mampu menangkap perbedaan detail antar posisi. Akibatnya, beberapa jabatan dengan tanggung jawab tinggi justru dianggap setara dengan jabatan yang lebih ringan. Masalah yang muncul antara lain:
Perbedaan beban kerja – Customer Service Officer yang menghadapi target kepuasan pelanggan dianggap sama pentingnya dengan staf administrasi yang hanya mengelola dokumen rutin.
Persyaratan pendidikan – teknisi dengan pendidikan SMA dan analis proyek dengan latar belakang S1 sama-sama dikelompokkan pada level serupa.
Risiko pekerjaan – jabatan di lapangan (misalnya teknisi) memiliki risiko lebih tinggi, namun tidak tercermin dalam struktur upah.
Tanggung jawab kepemimpinan – supervisor produksi yang memimpin tim – belum diberi bobot gaji lebih signifikan dibandingkan dengan staf.
Manajemen meminta HR untuk menerapkan Metode Faktor Poin, karena metode ini dianggap lebih adil: setiap jabatan dievaluasi berdasarkan faktor-faktor objektif, diberi bobot dan skor, lalu dikonversi ke nilai upah. Hasil akhirnya diharapkan dapat mencerminkan keadilan internal yang lebih akurat dibanding metode sebelumnya.
PT Pabrik Kebab Nusantara adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan penjualan daging kebab serta kulit tortila dengan produksi berskala besar. Sistem penggajian perusahaan ini didasarkan pada gaji bulanan ditambah tunjangan tetap, lembur, dan insentif lainnya, serta dikurangi potongan absensi dan iuran wajib. Herman adalah karyawan tetap dengan masa kerja lebih dari 24 bulan. Untuk periode Januari 2025, ia memiliki komponen gaji sebagai berikut:
Gaji pokok Rp 8.500.000
Potongan alpha (absensi): 3 hari
Lembur: 5 hari × 2 jam
Tunjangan tetap: transportasi Rp 500.000, makan Rp 450.000, jabatan Rp 500.000
Potongan wajib: BPJS Kesehatan (1%), BPJS Ketenagakerjaan (JHT 2%, JP 1%)
Pajak PPh 21: mengacu tarif terbaru
Tugasmu adalah menghitung Take Home Pay (THP) Herman secara rinci dengan memperhatikan seluruh komponen di atas, lalu menyusunnya dalam slip gaji sederhana.